Kamis, 12 Desember 2013

PENYUSUTAN, PENURUNAN DAN DEPLESI


  1. PENYUSUTAN
Penyusutan didefinisikan sebagai proses akuntansi dalam mengalokasikan biaya aktiva berwujud ke beban dengan cara yang sistematis dan rasional selama periode yang diharapkan mendapat manfaat dari penggunaaan aktiva tersebut.
  1. Faktor-faktor yang terlibat
    Dasar penyusutan aktiva.
Dasar yang ditetapkan untuk penyusutan merupakan fungsi dari dua faktor yaitu biaya awal dan nilai sisa. Nilai sisa adalah estimasi jumlah yang akan diterima pada saat itu dijual atau ditarik dari penggunaannya. Nilai sisa merupakan jumlah dimana aktiva harus diturunkan nilainya atau disusutkan selama masa manfaatnya.
  1. Estimasi umur pelayanan atau jasa. Umur pelayanan suatu aktiva dan umur fisiknya seringkali tidak sama. Sebuah mesin secara fisik mungkin dapat memproduksi sejumlah produk tertentu selama beberapa tahun melebihi umur pelayanannya, tetapi mesin tersebut tidak digunakan selama seluruh tahun ini karena biaya pembuatan produk dalam tahun-tahun terakhir mungkin terlalu tinggi. Aktiva ditarik dari penggunaan karena ada dua alasan :
-       Faktor-faktor fisik
-       Faktor-faktor ekonomi:
ketidaklayakan, terjadi apabila suatu aktiva tidak berguna lagi bagi perusahaan tertentu karena permintaan akan produk perusahaan itu telah meningkat.
penggantian, penggantian satu aktiva dengan aktiva lainnya yang lebih efisien dan ekonomis.
keusangan, tempat pembuangan untuk situasi yang tidak melibatkan ketidaklayakan dan penggantian.
  1. Metode Penyusutan
    1. Metode aktivitas (unit pengunaan atau produksi).
Misalnya :
Mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00 nilai sisa Rp 40.000,00. Mesin ini ditaksir selama umur penggunaan akan menghasilkan 56.000 unit produk. Depresiasi per unit produk dihitung sebagai berikut :

Depresiasi per unit                  =          HP – NS
           n
=          Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
56.000,00
=          Rp 10,00
Apabila dalam tahun penggunaan pertama, mesin tersebut menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban depresiasi untuk tahun ini sebesar 18.000 x Rp 10,00 = Rp 180.000,00.
Metode aktivitas juga disebut pendekatan beban variable, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu. Umur aktiva ini dinyatakan dalam istilah keluaran yang disediakan atau masukan seperti jumlah jam kerja.
  1. Metode garis – lurus.
Metode ini mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan dari fungsi penggunaan. Metode ini telah digunakan secara luas dalam praktek karena kemudahannya. Prosedur garis-lurus secara konseptual seringkali juga merupakan prosedur penyusutan yang paling sesuai.
Contoh soal, misalnya : mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00, taksiran nilai sisa ( residu ) sebesar Rp 40.000,00 dan umurnya ditaksir selama 4 tahun.
Depresiasi tiap tahun dihitung sebagai berikut :
Depresiasi        =          HP – NS
          n
=          Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
                                           4
=          Rp  140.000,00
Keterangan :
HP       =          Harga Perolahan (cost)
NS       =          Nilai Sisa ( residu )
n          =          Taksiran umur kegunaan
Jika disusun dalam bentuk tabel, maka perhitungan depresiasi dan akumulasi depresiasi dari mesin dimuka adalah sebagai berikut :
Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus
Akhir Tahun ke
Debit Depresiasi
Kredit Akumulasi Depresiasi
Total Akumulasi Depresiasi
Nilai Buku Aktiva
1
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 600.000,00 
Rp 460.000,00
2
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 280.000,00
Rp 320.000,00
3
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 420.000,00
Rp 180.000,00
4
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 560.000,00
Rp  40.000,00

Rp 560.000,00
Rp 560.000,00


  1. Metode beban menurun (metode penyusutan dipercepat).
Metode ini menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang.
  1. Jumlah angka tahun, menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan (biaya awal dikurangi nilai sisa).
  2. Metode saldo menurun, metode ini menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.
  3. Metode penyusutan khusus
    1. Metode kelompok dan gabungan / komposit. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda. Tarif penyusutan gabungan ini ditentukan dengan membagi penyusutan per tahun dengan total biaya aktiva. Jika tidak terdapat perubahan dalam akun aktiva, maka kelompok aktiva akan disusutkan hingga ke nilai sisa atau nilai residu.
    2. Metode campuran atau kombinasi. Prinsip akuntansi yang diterima umum hanya mensyaratkan bahwa metode itu menghasilkan pengalokasian biaya aktiva selama umur aktiva dengan cara yang sistematis dan rasional.
  1. Pemilihan Metode.
Banyak yang percaya bahwa metode yang paling baik menandingkan pendapatan dengan beban harus digunakan. Karena sulit untuk mempertahankan satu pendekatan sebagai lebih berguna dari lainnya atas dasar konseptual, maka pemilihan metode penyusutan seringkali didasarkan atas pertimbangan praktis. Banyak perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk tujuan pembukuan dan menerapkan metode penyusutan dipercepat untuk tujuan pajak.
  1. Masalah Penyusutan Khusus
    1. Penyusutan dan Periode Parsial atau Sebagian.
Dalam menghitung beban penyusutan untuk periode parsial, perlu ditentukan beban penyusutan untuk satu tahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban penyusutan tersebut diantara dua periode yang terlibat. Proses ini harus terus berlangsung selama masa manfaat aktiva.
  1. Penyusutan dan Penggantian Aktiva Tetap. Penyusutan sama dengan beban lain yang mengurangi laba bersih. Perbedaannya adalah penyusutan tidak melibatkan arus kas keluar periode berjalan. Dana untuk penggantian aktiva berasal dari pendapatan (yang dihasilkan melalui penggunaan aktiva), tanpa pendapatan tidak ada laba yang diwujudkan dan tidak ada arus kas masuk yang dihasilkan.
  2. Revisi Tarif Penyusutan. Ketika aktiva tetap dibeli, tarif penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan. Akan tetapi provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin perlu untuk merevisinya selama umur aktiva. Perubahan estimasi harus ditangani dalam periode berjalan dan periode mendatang. Tidak ada perubahan yang harus dibuat atas haasil-hasil yang dilaporkan sebelumnya. Saldo awal tidak disesuaikan dan tidak ada upaya untuk mengejar periode sebelumnya.
  1. PENURUNAN NILAI
Standar akuntansi umum mengenai nilai terendah antara biaya atau harga pasar untuk persediaan tidak dapat diaplikasikan pada properti, pabrik dan peralatan. Bahkan ketika properti, pabrik, dan peralatan telah mengalami keusangan sebagian akuntan merasa enggan mengurangi jumlah tercatat aktiva tersebut.
  1. Mengakui penurunan.
Dalam standar ini, penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat aktiva tidak dapat dipulihkan dan oleh karena itu perlu dihapuskan. Berbagai kejadian dan perubahan situasi mungkin akan mengarah pada suatu penurunan nilai.
  1. Mengukur penurunan.
Jika pengujian tentang kemampuan pemulihan menunjukkan bahwa penurunan nilai telah terjadi maka suatu kerugian dihitung. Kerugian penurunan nilai adalah jumlah di mana jumlah tercatat aktiva melebihi nilai wajarnya.
  1. Restorasi kerugian.
Setelah kerugian penurunan dicatat maka penurunan nilai tercatat aktiva yang ditahan untuk digunakan akan menjadi dasar biaya yang baru. Akibatnya dasar biaya baru ini tidak berubah kecuali untuk penyusutan di periode masa depan atau penurunan nilai tambahan.
  1. Aktiva yang akan dilepaskan.
Aktiva yang diturunkan dilaporkan pada yang terendah antara biaya atau nilai wajar dikurangi biaya untuk menjualnya (nilai realisasi bersih). Karena aktiva dimaksudkan untuk dilepaskan dalam periode waktu yang singkat, maka nilai realisasi bersih akan digunakan dalam rangka menyediakan ukuran yang lebih baik atas daar yang sama dengan aktiva lainnya yang tidak menurun.
III. DEPLESI
Sumber daya alam yang serinkali disebut aktiva yang dapat habis mencakup minyak, mineral, dan kayu. Aktiva ini dikarakteristikkan dengan dua fitur utama : (1) pengambilan sepenuhnya aktiva itu dan (2) penggantian aktiva ini hanya dapat dilakukan oleh tindakan alam.
  1. Menentukan dasar
    1. Penetapan dasar deplesi. Perhitungan dasar deplesi melibatkan empat faktor :
û  Biaya akuisisi, adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk mencari dan menentukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang harus dibayar untuk sumber daya yang telah ditemukan .
û  Biaya eksplorasi, seringkali diperlukan untuk menemukan sumber daya alam.
û  Biaya pengembangan, dibagi menjadi dua (1) peralatan berwujud, termasuk semua transportasi dan peralatan berat lainnya yang diperlukan untuk menambang sumber daya serta menyiapkannya untuk produksi atau pengiriman. Karena aktiva ini dapat dipindahkan dari satu lokasi pengeboran atau penambangan ke lokasi lainnya maka biaya peralatan berwujud biasanya tidak diperhitungkan dalam dasar deplesi. dan (2) biaya pengembangan tidak berwujud, dianggap sebagai bagian dasar deplesi. Biaya ini adalah untuk pos-pos seperti biaya pengeboran, terowongan, gua, dan sumur yang tidak memiliki karakteristik berwujud tetapi diperlukan dalam menambang sumber daya alam.
û  Biaya restorasi, biaya ini harus ditambahkan ke dasar dplesi untuk tujuan perhitungan biaya deplesi per unit. Kemudian setiap niali sisa yang diterima atas properti itu dikurangi dari dasar deplesi.
  1. Penghapusan biaya sumber daya
Menentukan bagaimana biaya sumber daya alam harus dialokasikan ke periode akuntansi. Biasanya deplesi dihitung dengan metode unit produksi (pendekatan aktivitas), yang berarti bahwa deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditarik selama periode berjalan. Tingkat deplesi yang ditetapkan dihitung dengan cara berikut :
Total biaya – nilai sisa           =   Biaya deplesi per unit
Total estimasi unit yg tersedia
  1. Kontroversi yang berkelanjutan
    1. 1977-FASB mengluarkan statement no.19, yang mengharuskan perusahaan minyak dan gas untuk mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
    2. 1978-Dalam menanggapi kritik terhadap tindakan FASB, SEC memeriksa kembali masalah itu dan menemukan bahwa baik akuntansi upaya yang berhasil maupun biaya penuh tidak memadai karena tidak satupun yang merefleksikan substansi ekonomi dari ekplorasi minyak dan gas.
    3. 1979-1091, sebagai akibat dari tindakan SEC, FASB tidak mempunyai pilihan selain menerbitkan standar lain yang menunda persyaratan bahwa perusahaan harus mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
    4. 1981-SEC mengumumkan bahwa ia membatalkan RRA sebagai metode pengakuan akuntansi potensial dalam laporan keuangan utama produsen munyak dan gas.
    5. 1986-salah satu persyaratan akuntansi biaya penuh adalah bahwa biaya hanya dapat dikapitalisasi hingga batas atas, yang tingginya ditentukan oleh nilai sekarang dari cadangan perusahaan.
  1. Masalah khusus
    1. Mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan.
Seringkali estimasi cadangan yang dapat dipulihkan harus diubah baik karena informasi baru telah tersedia maupun karena proses produksi telah menjadi lebih canggih. Masalah ini sama dengan akuntansi untuk perubahan estimasi umur manfaat pabrik dan peralatan.
  1. Nilai penemuan.
Nilai penemuan merupakan istilah lebih luas yang berkaitan dengan keseluruhan daerah sumber daya alam. Seperti ditunjukkan sebelumnya akuntan tidak mengakui nilai penemuan. Akan tetapi, jika nilai penemuan akan dicatat maka suatu akun aktiva akan didebet dan akun apresiasi yang belum direalisasi akan di kredit.
  1. Aspek pajak dari sumber daya alam.
Peraturan pajak telah lama menetapkan pengurangan yang lebih besar dari biaya atau persentase pajak deplesi terhadap pendapatan minyak, gas, dan kebanyakan mineral. Persentase deplesi atau statuter memungkinkan pengahapusan sekitar 5% hingga 22% (tergantung pada sumber daya alam) dari pendapatan kotor yang diterima.
  1. Dividen likuidasi
Masalah akuntansi yang utama adalah membedakan antara dividen yang merupakan pengembalian modal dan yang bukan. Perusahaan yang menerbitkan dividen likuidasi harus mendebet agio saham untuk bagian yang berhubungan dengan investasi awal dan bukan ke laba ditahan, karena dividen tersebut merupakan pengembalian sebagian dari kontribusi awal investor.
Beberapa perbedaan antara deplesi dan depresiasi adalah sebagai berikut :
  • Deplesi merupakan pengakuan terhadap pengurangan kuantitatif yang terjadi dalam sumber-sumber alam, sedangkan depresiasi merupakan pengakuan terhadap pengurangan service ( manfaat ekonomi ) yang terjadi dalam aktiva tetap.
  • Deplesi digunakan untuk aktiva tetap yang tidak dapat digantilangsung dengan aktiva yang sama jika sudah habis, sedangkan depresiasi digunakan untuk aktiva tetap yang pada umumnya dapat diganti jika sudah habis.
  • Deplesi adalah pengakuan terhadap perubahan langsung dari suatu sumber alam menjadi barang yang dapat dijual, sedangkan depresiasi adalah alokasi harga perolehan ke penghasilan periode yang bersangkutan untuk suatu service yang dihasilkan ( kecuali dalam perusahaan dimana depresiasi dihitung berdasarkan hasil produksi ).
Metode Perhitungan Deplesi
Untuk menghitung deplesi ada 3 hal yang harus dperhatikan yaitu :
a)      Harga perolehan aktiva
Dalam hal sumber-sumber alam, harga perolehannya adalah pengeluaran sejak memperoleh izin sampai sumber alam itu dapat diambil hasilnya. Jika kumpulan pengeluaran itu terlalu kecil maka dilakukan penilaian terhadap sumber alam tersebut.
b)      Taksiran nilai sisa apabila sumber alam sudah selesai dieksploitasi.
c)      Taksiran hasil yang secara ekonomis dapat dieksploitasi.
Deplesi dihitung untuk tiap unit hasil sumber alam ( ton, barrel, dan lain-lain ). Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas berikut diilustrasikan contoh sebagai berikut :
Tanah yang mengandung hasil tambang dibeli dengan harga Rp 20.000.000,00. Taksiran isinya sebesar 150.000 ton. Tanah tersebut sesudah dieksploitasi ditaksir bernilai Rp 2.000.000,00. Deplesi per ton dihitung sebagai berikut :
Deplesi = Rp 20.000.000,00 – Rp 2.000.000,00 = Rp 120,00 per ton
150.000
Jika pada tahun pertama bisa dieksploitasi sebanyak 40.000 ton, maka deplesi untuk tahun tersebut = 40.000 x Rp 120,00 = Rp 4.800.000,00
Jurnal yang dibuat untuk mencatat deplesi sebagai berikut :
Deplesi                                    Rp 4.800.000,00
Akumulasi Deplesi                              Rp 4.800.000,00
Revisi Perhitungan Deplesi
Jika pembangunan tambang / sumber alam itu juga terjadi dalam masa eksploitasi, sedangkan biayanya ditaksir di muka pada waktu akan menghitung bebab deplesi, jika kenyataannya biaya pembangunan berbeda dengan yang sudah ditaksir maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Begitu juga jika taksiran isi tambangnya berbeda dengan taksiran isi tambang yang dipakai dalam menghitung deplesi maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Koreksi terhadap deplesi dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
v  Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat dikoreksi, begitu juga untuk deplesi yang akan datang.
v  Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat tidak dikoreksi, tetapi deplesi tahun-tahun yang akan datang dilakukan dengan data yang terakhir.
Dalam cara pertama koreksi dilakukan seperti halnya dalam aktiva tetap. Pada saat diketahui adanya perubahan, dihitung lagi deplesi per unit kemudian dilakukan koreksi. Misalnya deplesi yang lalu terlalu besar, jurnal koreksinya sebagai berikut :
Akumulasi Deplesi                                          Rp xxx
Laba Tidak Dibagi ( Koreksi Laba Tahun Lalu )        Rp xxx
Dalam cara kedua, deplesi tahun-tahun lalu tidak dikoreksi, tetapi deplesi untuk tahun berjalan dan tahun-tahun yang akan datang direvisi. Misalnya, dari contoh dimuka, biaya pembangunan bertambah dengan sebesar Rp 1.800.000,00. Sesudah dieksploitasi dalam tahun  kedua sebanyak 30.000 ton, tambang ditaksir masih mengandung 90.000 ton. Perhitungan deplesi tahun kedua sebagai berikut :
Harga perolehan pertama                                                                    Rp 20.000.000,00
( – ) nilai sisa                                                    Rp 2.000.000,00
Deplesiasi tahun lalu                                       4.800.000,00 Rp   6.800.000,00
Rp  13.200.000,00
Biaya pembangunan tahun kedua                                                       Rp   1.800.000,00
Jumlah yang akan dideplesi                                                                Rp 15.000.000,00
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua :
Hasil eksploitasi tahun kedua ( ton )                                                   30.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua ( ton )                           90.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua ( ton )                           120.000
Deplesi per ton dalam tahun kedua :
Rp 15.000.000,00 : 120.000,00 =  Rp 125,00
Deplesi tahun kedua = 30.000 ton x Rp 125,00 =      Rp 3.750.000,00

Sumber: PENYUSUTAN, PENURUNAN DAN DEPLESI

Filed under: AKUNTANSI, EKONOMI
Januari 16, 2011






3 Votes

  1. PENYUSUTAN
Penyusutan didefinisikan sebagai proses akuntansi dalam mengalokasikan biaya aktiva berwujud ke beban dengan cara yang sistematis dan rasional selama periode yang diharapkan mendapat manfaat dari penggunaaan aktiva tersebut.
  1. Faktor-faktor yang terlibat
    Dasar penyusutan aktiva.
Dasar yang ditetapkan untuk penyusutan merupakan fungsi dari dua faktor yaitu biaya awal dan nilai sisa. Nilai sisa adalah estimasi jumlah yang akan diterima pada saat itu dijual atau ditarik dari penggunaannya. Nilai sisa merupakan jumlah dimana aktiva harus diturunkan nilainya atau disusutkan selama masa manfaatnya.
  1. Estimasi umur pelayanan atau jasa. Umur pelayanan suatu aktiva dan umur fisiknya seringkali tidak sama. Sebuah mesin secara fisik mungkin dapat memproduksi sejumlah produk tertentu selama beberapa tahun melebihi umur pelayanannya, tetapi mesin tersebut tidak digunakan selama seluruh tahun ini karena biaya pembuatan produk dalam tahun-tahun terakhir mungkin terlalu tinggi. Aktiva ditarik dari penggunaan karena ada dua alasan :
-       Faktor-faktor fisik
-       Faktor-faktor ekonomi:
ketidaklayakan, terjadi apabila suatu aktiva tidak berguna lagi bagi perusahaan tertentu karena permintaan akan produk perusahaan itu telah meningkat.
penggantian, penggantian satu aktiva dengan aktiva lainnya yang lebih efisien dan ekonomis.
keusangan, tempat pembuangan untuk situasi yang tidak melibatkan ketidaklayakan dan penggantian.
  1. Metode Penyusutan
    1. Metode aktivitas (unit pengunaan atau produksi).
Misalnya :
Mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00 nilai sisa Rp 40.000,00. Mesin ini ditaksir selama umur penggunaan akan menghasilkan 56.000 unit produk. Depresiasi per unit produk dihitung sebagai berikut :
Depresiasi per unit                  =          HP – NS
n
=          Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
56.000,00
=          Rp 10,00
Apabila dalam tahun penggunaan pertama, mesin tersebut menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban depresiasi untuk tahun ini sebesar 18.000 x Rp 10,00 = Rp 180.000,00.
Metode aktivitas juga disebut pendekatan beban variable, mengasumsikan bahwa penyusutan adalah fungsi dari penggunaan atau produktivitas dan bukan dari berlalunya waktu. Umur aktiva ini dinyatakan dalam istilah keluaran yang disediakan atau masukan seperti jumlah jam kerja.
  1. Metode garis – lurus.
Metode ini mempertimbangkan penyusutan sebagai fungsi dari waktu, bukan dari fungsi penggunaan. Metode ini telah digunakan secara luas dalam praktek karena kemudahannya. Prosedur garis-lurus secara konseptual seringkali juga merupakan prosedur penyusutan yang paling sesuai.
Contoh soal, misalnya : mesin dengan harga perolehan Rp 600.000,00, taksiran nilai sisa ( residu ) sebesar Rp 40.000,00 dan umurnya ditaksir selama 4 tahun.
Depresiasi tiap tahun dihitung sebagai berikut :
Depresiasi        =          HP – NS
n
=          Rp 600.000,00 – Rp 40.000,00
4
=          Rp  140.000,00
Keterangan :
HP       =          Harga Perolahan (cost)
NS       =          Nilai Sisa ( residu )
n          =          Taksiran umur kegunaan
Jika disusun dalam bentuk tabel, maka perhitungan depresiasi dan akumulasi depresiasi dari mesin dimuka adalah sebagai berikut :
Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus
Akhir Tahun ke
Debit Depresiasi
Kredit Akumulasi Depresiasi
Total Akumulasi Depresiasi
Nilai Buku Aktiva
1
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 600.000,00 
Rp 460.000,00
2
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 280.000,00
Rp 320.000,00
3
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 420.000,00
Rp 180.000,00
4
Rp 140.000,00
Rp 140.000,00
Rp 560.000,00
Rp  40.000,00

Rp 560.000,00
Rp 560.000,00


  1. Metode beban menurun (metode penyusutan dipercepat).
Metode ini menyediakan biaya penyusutan yang lebih tinggi pada tahun-tahun awal dan beban yang lebih rendah pada periode mendatang.
  1. Jumlah angka tahun, menghasilkan beban penyusutan yang menurun berdasarkan pecahan yang menurun dari biaya yang dapat disusutkan (biaya awal dikurangi nilai sisa).
  2. Metode saldo menurun, metode ini menggunakan tarif penyusutan berupa beberapa kelipatan dari metode garis lurus.
  3. Metode penyusutan khusus
    1. Metode kelompok dan gabungan / komposit. Pendekatan gabungan digunakan apabila aktiva bersifat heterogen dan memiliki umur manfaat yang berbeda. Tarif penyusutan gabungan ini ditentukan dengan membagi penyusutan per tahun dengan total biaya aktiva. Jika tidak terdapat perubahan dalam akun aktiva, maka kelompok aktiva akan disusutkan hingga ke nilai sisa atau nilai residu.
    2. Metode campuran atau kombinasi. Prinsip akuntansi yang diterima umum hanya mensyaratkan bahwa metode itu menghasilkan pengalokasian biaya aktiva selama umur aktiva dengan cara yang sistematis dan rasional.
  1. Pemilihan Metode.
Banyak yang percaya bahwa metode yang paling baik menandingkan pendapatan dengan beban harus digunakan. Karena sulit untuk mempertahankan satu pendekatan sebagai lebih berguna dari lainnya atas dasar konseptual, maka pemilihan metode penyusutan seringkali didasarkan atas pertimbangan praktis. Banyak perusahaan menggunakan metode garis lurus untuk tujuan pembukuan dan menerapkan metode penyusutan dipercepat untuk tujuan pajak.
  1. Masalah Penyusutan Khusus
    1. Penyusutan dan Periode Parsial atau Sebagian.
Dalam menghitung beban penyusutan untuk periode parsial, perlu ditentukan beban penyusutan untuk satu tahun penuh dan kemudian merata-ratakan beban penyusutan tersebut diantara dua periode yang terlibat. Proses ini harus terus berlangsung selama masa manfaat aktiva.
  1. Penyusutan dan Penggantian Aktiva Tetap. Penyusutan sama dengan beban lain yang mengurangi laba bersih. Perbedaannya adalah penyusutan tidak melibatkan arus kas keluar periode berjalan. Dana untuk penggantian aktiva berasal dari pendapatan (yang dihasilkan melalui penggunaan aktiva), tanpa pendapatan tidak ada laba yang diwujudkan dan tidak ada arus kas masuk yang dihasilkan.
  2. Revisi Tarif Penyusutan. Ketika aktiva tetap dibeli, tarif penyusutan ditentukan dengan hati-hati berdasarkan pengalaman masa lalu dengan aktiva sejenis dan informasi lainnya yang berkaitan. Akan tetapi provisi untuk penyusutan hanya merupakan estimasi dan mungkin perlu untuk merevisinya selama umur aktiva. Perubahan estimasi harus ditangani dalam periode berjalan dan periode mendatang. Tidak ada perubahan yang harus dibuat atas haasil-hasil yang dilaporkan sebelumnya. Saldo awal tidak disesuaikan dan tidak ada upaya untuk mengejar periode sebelumnya.
  1. PENURUNAN NILAI
Standar akuntansi umum mengenai nilai terendah antara biaya atau harga pasar untuk persediaan tidak dapat diaplikasikan pada properti, pabrik dan peralatan. Bahkan ketika properti, pabrik, dan peralatan telah mengalami keusangan sebagian akuntan merasa enggan mengurangi jumlah tercatat aktiva tersebut.
  1. Mengakui penurunan.
Dalam standar ini, penurunan nilai terjadi apabila jumlah tercatat aktiva tidak dapat dipulihkan dan oleh karena itu perlu dihapuskan. Berbagai kejadian dan perubahan situasi mungkin akan mengarah pada suatu penurunan nilai.
  1. Mengukur penurunan.
Jika pengujian tentang kemampuan pemulihan menunjukkan bahwa penurunan nilai telah terjadi maka suatu kerugian dihitung. Kerugian penurunan nilai adalah jumlah di mana jumlah tercatat aktiva melebihi nilai wajarnya.
  1. Restorasi kerugian.
Setelah kerugian penurunan dicatat maka penurunan nilai tercatat aktiva yang ditahan untuk digunakan akan menjadi dasar biaya yang baru. Akibatnya dasar biaya baru ini tidak berubah kecuali untuk penyusutan di periode masa depan atau penurunan nilai tambahan.
  1. Aktiva yang akan dilepaskan.
Aktiva yang diturunkan dilaporkan pada yang terendah antara biaya atau nilai wajar dikurangi biaya untuk menjualnya (nilai realisasi bersih). Karena aktiva dimaksudkan untuk dilepaskan dalam periode waktu yang singkat, maka nilai realisasi bersih akan digunakan dalam rangka menyediakan ukuran yang lebih baik atas daar yang sama dengan aktiva lainnya yang tidak menurun.
III. DEPLESI
Sumber daya alam yang serinkali disebut aktiva yang dapat habis mencakup minyak, mineral, dan kayu. Aktiva ini dikarakteristikkan dengan dua fitur utama : (1) pengambilan sepenuhnya aktiva itu dan (2) penggantian aktiva ini hanya dapat dilakukan oleh tindakan alam.
  1. Menentukan dasar
    1. Penetapan dasar deplesi. Perhitungan dasar deplesi melibatkan empat faktor :
û  Biaya akuisisi, adalah harga yang dibayarkan guna memperoleh hak properti untuk mencari dan menentukan sumber daya alam yang belum ditemukan atau harga yang harus dibayar untuk sumber daya yang telah ditemukan .
û  Biaya eksplorasi, seringkali diperlukan untuk menemukan sumber daya alam.
û  Biaya pengembangan, dibagi menjadi dua (1) peralatan berwujud, termasuk semua transportasi dan peralatan berat lainnya yang diperlukan untuk menambang sumber daya serta menyiapkannya untuk produksi atau pengiriman. Karena aktiva ini dapat dipindahkan dari satu lokasi pengeboran atau penambangan ke lokasi lainnya maka biaya peralatan berwujud biasanya tidak diperhitungkan dalam dasar deplesi. dan (2) biaya pengembangan tidak berwujud, dianggap sebagai bagian dasar deplesi. Biaya ini adalah untuk pos-pos seperti biaya pengeboran, terowongan, gua, dan sumur yang tidak memiliki karakteristik berwujud tetapi diperlukan dalam menambang sumber daya alam.
û  Biaya restorasi, biaya ini harus ditambahkan ke dasar dplesi untuk tujuan perhitungan biaya deplesi per unit. Kemudian setiap niali sisa yang diterima atas properti itu dikurangi dari dasar deplesi.
  1. Penghapusan biaya sumber daya
Menentukan bagaimana biaya sumber daya alam harus dialokasikan ke periode akuntansi. Biasanya deplesi dihitung dengan metode unit produksi (pendekatan aktivitas), yang berarti bahwa deplesi merupakan fungsi dari jumlah unit yang ditarik selama periode berjalan. Tingkat deplesi yang ditetapkan dihitung dengan cara berikut :
Total biaya – nilai sisa           =   Biaya deplesi per unit
Total estimasi unit yg tersedia
  1. Kontroversi yang berkelanjutan
    1. 1977-FASB mengluarkan statement no.19, yang mengharuskan perusahaan minyak dan gas untuk mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
    2. 1978-Dalam menanggapi kritik terhadap tindakan FASB, SEC memeriksa kembali masalah itu dan menemukan bahwa baik akuntansi upaya yang berhasil maupun biaya penuh tidak memadai karena tidak satupun yang merefleksikan substansi ekonomi dari ekplorasi minyak dan gas.
    3. 1979-1091, sebagai akibat dari tindakan SEC, FASB tidak mempunyai pilihan selain menerbitkan standar lain yang menunda persyaratan bahwa perusahaan harus mengikuti akuntansi upaya yang berhasil.
    4. 1981-SEC mengumumkan bahwa ia membatalkan RRA sebagai metode pengakuan akuntansi potensial dalam laporan keuangan utama produsen munyak dan gas.
    5. 1986-salah satu persyaratan akuntansi biaya penuh adalah bahwa biaya hanya dapat dikapitalisasi hingga batas atas, yang tingginya ditentukan oleh nilai sekarang dari cadangan perusahaan.
  1. Masalah khusus
    1. Mengestimasi cadangan yang dapat dipulihkan.
Seringkali estimasi cadangan yang dapat dipulihkan harus diubah baik karena informasi baru telah tersedia maupun karena proses produksi telah menjadi lebih canggih. Masalah ini sama dengan akuntansi untuk perubahan estimasi umur manfaat pabrik dan peralatan.
  1. Nilai penemuan.
Nilai penemuan merupakan istilah lebih luas yang berkaitan dengan keseluruhan daerah sumber daya alam. Seperti ditunjukkan sebelumnya akuntan tidak mengakui nilai penemuan. Akan tetapi, jika nilai penemuan akan dicatat maka suatu akun aktiva akan didebet dan akun apresiasi yang belum direalisasi akan di kredit.
  1. Aspek pajak dari sumber daya alam.
Peraturan pajak telah lama menetapkan pengurangan yang lebih besar dari biaya atau persentase pajak deplesi terhadap pendapatan minyak, gas, dan kebanyakan mineral. Persentase deplesi atau statuter memungkinkan pengahapusan sekitar 5% hingga 22% (tergantung pada sumber daya alam) dari pendapatan kotor yang diterima.
  1. Dividen likuidasi
Masalah akuntansi yang utama adalah membedakan antara dividen yang merupakan pengembalian modal dan yang bukan. Perusahaan yang menerbitkan dividen likuidasi harus mendebet agio saham untuk bagian yang berhubungan dengan investasi awal dan bukan ke laba ditahan, karena dividen tersebut merupakan pengembalian sebagian dari kontribusi awal investor.
Beberapa perbedaan antara deplesi dan depresiasi adalah sebagai berikut :
  • Deplesi merupakan pengakuan terhadap pengurangan kuantitatif yang terjadi dalam sumber-sumber alam, sedangkan depresiasi merupakan pengakuan terhadap pengurangan service ( manfaat ekonomi ) yang terjadi dalam aktiva tetap.
  • Deplesi digunakan untuk aktiva tetap yang tidak dapat digantilangsung dengan aktiva yang sama jika sudah habis, sedangkan depresiasi digunakan untuk aktiva tetap yang pada umumnya dapat diganti jika sudah habis.
  • Deplesi adalah pengakuan terhadap perubahan langsung dari suatu sumber alam menjadi barang yang dapat dijual, sedangkan depresiasi adalah alokasi harga perolehan ke penghasilan periode yang bersangkutan untuk suatu service yang dihasilkan ( kecuali dalam perusahaan dimana depresiasi dihitung berdasarkan hasil produksi ).
Metode Perhitungan Deplesi
Untuk menghitung deplesi ada 3 hal yang harus dperhatikan yaitu :
a)      Harga perolehan aktiva
Dalam hal sumber-sumber alam, harga perolehannya adalah pengeluaran sejak memperoleh izin sampai sumber alam itu dapat diambil hasilnya. Jika kumpulan pengeluaran itu terlalu kecil maka dilakukan penilaian terhadap sumber alam tersebut.
b)      Taksiran nilai sisa apabila sumber alam sudah selesai dieksploitasi.
c)      Taksiran hasil yang secara ekonomis dapat dieksploitasi.
Deplesi dihitung untuk tiap unit hasil sumber alam ( ton, barrel, dan lain-lain ). Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas berikut diilustrasikan contoh sebagai berikut :
Tanah yang mengandung hasil tambang dibeli dengan harga Rp 20.000.000,00. Taksiran isinya sebesar 150.000 ton. Tanah tersebut sesudah dieksploitasi ditaksir bernilai Rp 2.000.000,00. Deplesi per ton dihitung sebagai berikut :
Deplesi = Rp 20.000.000,00 – Rp 2.000.000,00 = Rp 120,00 per ton
150.000
Jika pada tahun pertama bisa dieksploitasi sebanyak 40.000 ton, maka deplesi untuk tahun tersebut = 40.000 x Rp 120,00 = Rp 4.800.000,00
Jurnal yang dibuat untuk mencatat deplesi sebagai berikut :
Deplesi                                    Rp 4.800.000,00
Akumulasi Deplesi                              Rp 4.800.000,00
Revisi Perhitungan Deplesi
Jika pembangunan tambang / sumber alam itu juga terjadi dalam masa eksploitasi, sedangkan biayanya ditaksir di muka pada waktu akan menghitung bebab deplesi, jika kenyataannya biaya pembangunan berbeda dengan yang sudah ditaksir maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Begitu juga jika taksiran isi tambangnya berbeda dengan taksiran isi tambang yang dipakai dalam menghitung deplesi maka perhitungan deplesi perlu direvisi. Koreksi terhadap deplesi dapat dilakukan dengan 2 cara sebagai berikut :
v  Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat dikoreksi, begitu juga untuk deplesi yang akan datang.
v  Deplesi tahun-tahun lalu yang sudah dicatat tidak dikoreksi, tetapi deplesi tahun-tahun yang akan datang dilakukan dengan data yang terakhir.
Dalam cara pertama koreksi dilakukan seperti halnya dalam aktiva tetap. Pada saat diketahui adanya perubahan, dihitung lagi deplesi per unit kemudian dilakukan koreksi. Misalnya deplesi yang lalu terlalu besar, jurnal koreksinya sebagai berikut :
Akumulasi Deplesi                                          Rp xxx
Laba Tidak Dibagi ( Koreksi Laba Tahun Lalu )        Rp xxx
Dalam cara kedua, deplesi tahun-tahun lalu tidak dikoreksi, tetapi deplesi untuk tahun berjalan dan tahun-tahun yang akan datang direvisi. Misalnya, dari contoh dimuka, biaya pembangunan bertambah dengan sebesar Rp 1.800.000,00. Sesudah dieksploitasi dalam tahun  kedua sebanyak 30.000 ton, tambang ditaksir masih mengandung 90.000 ton. Perhitungan deplesi tahun kedua sebagai berikut :
Harga perolehan pertama                                                                    Rp 20.000.000,00
( – ) nilai sisa                                                    Rp 2.000.000,00
Deplesiasi tahun lalu                                       4.800.000,00 Rp   6.800.000,00
Rp  13.200.000,00
Biaya pembangunan tahun kedua                                                       Rp   1.800.000,00
Jumlah yang akan dideplesi                                                                Rp 15.000.000,00
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua :
Hasil eksploitasi tahun kedua ( ton )                                                   30.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua ( ton )                           90.000
Taksiran isi tambang pada awal tahun kedua ( ton )                           120.000
Deplesi per ton dalam tahun kedua :
Rp 15.000.000,00 : 120.000,00 =  Rp 125,00
Deplesi tahun kedua = 30.000 ton x Rp 125,00 =      Rp 3.750.000,00

Sumber:

Kebangkrutan dan Reorganisasi


Kebangkrutan biasanya diartikan sebagai kegagalan perusahaan dalam menjalankan operasi perusahaan untuk menghasilkan laba. Kebangkrutan juga sering disebut likuidasi perusahaan atau penutupan perusahaan atau insolvabilitas. Menurut Drs. A. Abdurrachman dalam Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, kebangkrutan adalah suatu proses yang dilakukan oleh seorang debitur dengan mengisi suatu petisi yang menyatakan bahwa ia tidak mampu untuk memenuhi kewajiban-kewajibanya atau hutang-hutangnya dan bersedia dinyatakan bangkrut.
Kebangkrutan sebagai kegagalan didefinisikan dalam beberapa arti (Muhammad Akhyar Adnan dan Eha Kurniasih, 2000:137): yaitu kegagalan ekonomi (Economic failure) dan kegagalan keuangan (financial failure).
Kegagalan dalam arti ekonomi biasanya berarti bahwa perusahaan kehilangan uang atau pendapatan perusahaan tidak menutup biayanya sendiri, ini berarti tingkat labanya lebih kecil dari biaya modal atau nilai sekarang dari arus kas perusahaan lebih kecil dari kewajiban. Kegagalan terjadi bila arus kas sebenarnya dari perusahaan tersebut jatuh di bawah arus kas yang diharapkan. Bahkan kegagalan dapat juga berarti bahwa tingkat pendapatan atas biaya historis dari investasinya lebih kecil daripada biaya modal perusahaan.
Kegagalan keuangan bisa diartikan sebagai insolvensi yang membedakan antara dasar arus kas dan dasar saham. Insolvensi atas dasar arus kas ada dua bentuk: Insolvensi Teknis dan Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan. Insolvensi teknis adalah Perusahaan dapat dianggap gagal jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pada saat jatuh tempo.
Walaupun total aktiva melebihi total utang atau terjadi bila suatu perusahaan gagal memenuhi salah satu atau lebih kondisi dalam ketentuan hutangnya seperti rasio aktiva lancar terhadap utang lancar yang telah ditetapkan atau rasio kekayaan bersih terhadap total aktiva yang disyaratkan. Insolvensi juga terjadi bila arus kas tidak cukup untuk memenuhi pembayaran kembali pokok pada tanggal tertentu. Insolvensi dalam pengertian kebangkrutan adalah kebangkrutan didefinisikan dalam ukuran sebagai kekayaan bersih negatif dalam neraca konvensional atau nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan lebih kecil dari kewajiban.
Kebangkrutan dari berbagai pengertian di atas dapat disimpulkan sebagai suatu keadaan atau situasi dalam hal ini perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajiban-kewajiban kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan dan ketidakcukupan dana untuk menjalankan atau melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi yang ingin dicapai oleh perusahaan tidak dapat dicapai yaitu profit, sebab dengan laba yang diperoleh perusahaan bisa digunakan untuk mengembalikan pinjaman, membiayai operasi perusahaan dan kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi bisa ditutup dengan laba atau aktiva yang dimiliki.
Kebangkrutan akan cepat terjadi di negara yang sedang mengalami kesulitan ekonomi, karena kesulitan ekonomi akan memicu semakin cepatnya kebangkrutan perusahaan yang mungkin tadinya sudah sakit kemudian semakin sakit dan bangkrut. Perusahaan yang belum sakit pun akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan dana untuk kegiatan operasional akibat adanya krisis ekonomi tersebut. Proses kebangkrutan, tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi tetapi juga disebabkan oleh faktor yang lain yang sifatnya non ekonomi.
Dun & Bradstreet telah membuat persentase sebab-sebab kebangkrutan sebagai berikut, manajemen tidak kompeten 45,6%, kurang pengalaman di bidang manajerial 12,5%, pengalaman tidak seimbang dalam permodalan, penjualan, produksi dana lain-lain 19,2%, kurang pengalaman di bidang produksi yang ditangani 11,1%, kelalaian 0,7%, musibah 0,5%, penipuan 0,3%, dan alasan yang tidak diketahui 10,1%.
Yang dimaksud dengan tidak kompetennya manajer antara lain kegagalan mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan resesi dan trend industri yang tidak menguntungkan. Kesulitan keuangan yang dihadapi perusahaan biasanya akibat dari kesalahan perhitungan, kesalahan pertimbangan, dan kelemahan lain yang saling berkaitan. Dimana secara langsung ataupun tidak menggambarkan kemampuan manajemen.
Sedangkan menurut Bambang Riyanto, faktor-faktor penyebab kegagalan usaha dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor intern berasal dari dalam perusahaan itu sendiri baik yang meliputi faktor keuangan dan non keuangan. Faktor keuangan meliputi adanya hutang yang terlalu besar sehingga menjadi beban tetap yang berat bagi perusahaan, adanya kewajiban jangka pendek yang lebih besar dari aktiva lancar, lambatnya pengumpulan piutang atau banyaknya bad debt, kesalahan dalam kebijakan deviden, dan tidak cukupnya dana penyusutan.Sedangkan faktor non keuangan adalah adanya kesalahan-kesalahan dalam pemilihan lokasi, penentuan produk yang dihasilkan dan penentuan skala usaha, kurang baiknya struktur organisasi, kesalahan dalam pemilihan pimpinan perusahaan, adanya manajerial incompetence (kebijakan pembelian, penjualan, pemasaran).
Sedangkan faktor ekstern yang berasal dari luar perusahaan dan berada di luar jangkauan atau kontrol pimpinan perusahaan antara lain adalah adanya persaingan yang hebat, berkurangnya permintaan terhadap produk yang dihasilkan dan turunnya harga.
Menurut Drs. A. Abdurrachman, reorganisasi, pada umumnya, adalah pengaturan atau perbaikan mengenai susunan kapital suatu perseroan, biasanya yang meliputi penarikan kembali semua efek yang belum diselesaikan, dan penggantiannya dengan efek yang baru. Pada khususnya, adalah suatu recapitalization mengenai suatu perseroan yang jatuh bangkrut, yang menetapkan, bahwa para pemegang saham, pemegang obligasi, dan para kreditur menyetujui satu sama lain akan menyerahkan kepentingan-kepentingan dan tuntutan-tuntutannya, dan membentuk suatu perseroan yang baru untuk menyelesaikan hutang-hutang perseroan yang lama dan melanjutkan usaha-usahanya.
Dari beberapa keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa reorganisasi adalah adalah situasi dimana aktiva dari perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan dinyatakan dalam nilai pasar dan penyusunan kembali struktur permodalan perusahaan untuk mencerminkan tiap perubahan pada sisi aktiva. Dalam reorganisasi, perusahaan berjalan terus sedangkan pada kepailitan perusahaan dilikuidasi dan sirna.
Jika nilai perusahaan going concern lebih tinggi dibandingkan dengan nilai perusahaan dilikuidasi, maka pilihan reorganisasi/restrukturisasi layak dilakukan. Dalam situasi ini, operasi perusahaan akan diteruskan setelah dilakukan perbaikan-perbaikan, terutama perbaikan struktur modalnya. Trustee (kurator) bisa ditunjuk untuk menjalankan reorganisasi tersebut.
Rencana reorganisasi didasarkan pada prinsip keadilan dan kelayakan. Prinisip keadilan berarti semua pihak harus diperlakukan secara adil (fair). Prinsip kelayakan berarti rencana tersebut harus layak (bisa) dilakukan. Sebagai contoh, jika perusahaan mempunyai beban hutang terlalu tinggi sedangkan kemampuan penjualan sangat kecil, maka reorganisasi tidak layak dilakukan.
Langkah-langkah reorganisasi:
1. Menentukan Nilai Perusahaan
Penilaian yang sering digunakan, dan yang termasuk sederhana, adalah menghitung nilai perusahaan berdasarkan tingkat kapitalisasi.
2. Menentukan Struktur Modal yang Baru
Struktur modal tersebut bertujuan mengurangi beban tetap (bunga) agar perusahaan bisa beroperasi dengan lebih fleksibel. Untuk mengurangi beban tetap tersebut, total hutang biasanya akan dikurangi. Jika tidak ada lagi harapan bahwa operasi perusahaan akan berhasil, maka likuidasi merupakan alternatif satu-satunya yang mungkin dilakukan oleh perusahaan.
Likuidasi adalah proses dimana sebuah perusahaan sebagai suatu badan hukum berhenti beroperasi dengan cara mengakhiri hidup perusahaan tersebut.  (Christopher Pass & Bryan Lowes. Kamus Lengkap Ekonomi 1994). Proses demikian dapat dimulai atas permintaan para kreditor karena perusahaan dianggap telah bangkrut. Orang yang ditunjuk sebagai likuidator menjual seluruh aset perusahaan seharga nilai realisasinya nanti. Hasil dari perjanjian tersebut digunakan untuk membayar kewajiban-kewajiban utama pada para kreditor. Jika dana hasil penjualan aktiva tidak mencukupi untuk membayar kreditor, para kreditor istimewa akan dibayar lebih dahulu baru kemudian para pemberi pinjaman biasa dibayar dengan cara pembagian yang merata. Jika terdapat dana sisa ini akan dibagikan secara merata diantara para pemegang saham perusahaan.
Proses likuidasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu (1) melalui penyerahan, yaitu proses likuidasi yang tidak melalui pengadilan, dan (2) melalui kepailitan formal berdasarkan yuridiksi suatu pengadilan khusus.
Likuidasi penyerahan adalah prodesur informal untuk melikuidir hutang, bagi kreditur cara ini lebih menguntungkan dibanding kepailitan formal karena mereka menerima lebih banyak. Dilakukan transfer kepemilikan aktiva kepada pihak ketiga yang disebut assignee atau trustee. Assignee diinstruksikan untuk menjual aktiva itu baik di bawah tangan atau melalui lelang umum dan hasilnya dibagikan kepada kreditur secara pro-rata.
Sedangkan likuidasi kepailitan diatur dalam Undang-undang kepailitan yang mempunyai tiga fungsi penting, yaitu melindungi kreditur dari kemungkinan penipuan oleh debitur, pembagian aktiva debitur secara adil kepada para kreditur, menghapuskan semua kewajiban debitur sehingga yang bersangkutan dapat mulai usaha baru tanpa harus dibebani hutang terdahulu.
Distribusi aktiva dalam kepailitan ini diatur menurut urutan prioritas tagihan dalam Bab 5 Undang-undang kepailitan 1978, Pasal 507, ditetapkan masing-masing kreditur sebagai berikut:
1.    Kreditur dengan jaminan (secured Creditor) akan menerima hasil penjualan harta perusahaan debitor.
2.    Biaya pengendalian bantuan hukum lain dan trustee diperhitungkan ke dalam hasil.
3.    Beban pengeluaran setelah kasus terpaksa (involuntary case), telah dimulai tetapi sebelum trustee dibentuk.
4.    Jumlah upah untuk pegawai dibatasi tidak melebihi $2.000 per orang bila upah itu diterima tiga bulan sebelum petisi kepailitan diajukan secara resmi.
5.    Jumlah $2.000 yang diizinkan mencakupi jumlah upah pegawai ditambah jumlah iuran dana pensiun pegawai yang belum dibayarkan. Klaim iuran dana pensiun yang belum dibayarkan diizinkan untuk diperhitungkan hanya jumlah yang diberikan 6 bulan sebelum petisi kepailitan diajukan.
6.    Jumlah klaim tanpa jaminan terhadap deposito pelanggan $900 per orang.
7.    Pajak yang berlaku secara efektif adalah semua jenis pajak yang wajib dibayar oleh perusahaan.
8.    Kewajiban dana pensiun yang belum ada dananya lebih diperioritaskan kepada kreditor umum dan jumlah keseluruhannya dibatasi sampai 30 persen dari seluruh modal saham biasa dan preferen perusahaan; sisanya merupakan klaim yang sama seperti klaim kreditor umum.
9.    Kreditor umum atau kreditor tanpa jaminan meliputi kredit dagang, pinjaman tanpa jaminan, obligasi tanpa jaminan (debenture bonds), dan bagian pinjaman dengan jaminan yang tidak terbayar serta rencana pensiun yang belum terpenuhi dananya.
10.    Pemegang saham preferen dapat menerima jumlah sampai jumlah nominal saja.
11.     Pemegang saham biasa menerima apa saja yang tersisa.
Sumber: http://resum.wordpress.com/2011/01/05/kebangkrutan-dan-reorganisasi/

Template by:

Free Blog Templates